BANDA ACEH
"Saboeh Pakat Tabangun Banda"
Nur Fajri Qas (3615100702)
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Profil Kota Banda Aceh
Kota Banda Aceh merupakan ibukota Provinsi Aceh, Indonesia,
Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik,
sosial, dan budaya. Kota Banda Aceh juga merupakan kota yang berlandaskan islam
yang paling tua di Asia Tenggara. Dimana kota Banda Aceh merupakan ibu kota
dari Kesultanan Aceh.
Prestasi-prestasi Kota Banda Aceh akhir-akhir ini meningkat,
yaitu jadi kota wisata islami dan berhasil meraih Bhumandala Award dari Badan
Informasi Geospasial (BIG) dalam rangka peringatan Hari Informasi Geospasial
2016. Banda Aceh meraih terbaik kedua dalam Lima Simpul Jaringan Terbaik untuk
Kategori Kota.
Selain itu, Banda Aceh merupakan salah satu kota yang dilanda bencana alam Tsunami
pada Desember Tahun 2004. Pasca bencana Tsunami, kota Banda Aceh kembali di
bangun oleh Pemerintah dan berbagai bantuan dari luar mancanegara. Hingga saat ini
Banda Aceh telah berkembang pesat dari berbagai segi, baik segi ekonomi,
pendidikan, dan pariwisata khususnya.
Disini penulis ingin membahas tentang gambaran umum
wilayah, fisik dasar, kependudukan, kondisi sosial ekonomi, budaya dan pariwisata, intensitas pemanfaatan
ruang, infrastruktur, permasalahan, dan potensi, untuk Kota Banda
Aceh.
GAMBARAN KONSTELASI
Dalam Sistem Perkotaan Nasional, Kota Banda Aceh ditetapkan sebagai Pusat
Kegiatan Wilayah (PKW) sebagaimana yang dikemukakan dalam Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional yang telah ditetapkan menjadi Peraturan Pemerintah
Nomor 26 Tahun 2008, yang disusun berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2007.
Namun seiring dengan isu penataan ruang yang mendasari perumusan tujuan,
kebijakan dan strategi penataan ruang Kota Banda Aceh 20 tahun ke depan, maka
hirarki Kota Banda Aceh diusulkan untuk dipromosikan dan ditetapkan sebagai
Pusat Kegiatan Nasional (PKNp).
Penetapan Kota Banda Aceh sebagai PKNp ini juga sejalan dengan Kebijakan dan
Strategi Penataan Ruang serta Rencana Struktur Ruang Wilayah Provinsi yang
ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Aceh Tahun 2009-
2029.
Beberapa faktor yang mendasari penetapan sebagai PKNp tersebut adalah :
a. Kota Banda Aceh sebagai Ibukota Provinsi Aceh;
b. Kota Banda Aceh sebagai pintu gerbang provinsi dari segi transportasi laut dan
udara;
c. Fungsi Kota Banda Aceh sebagai pusat pelayanan pemerintahan, perdagangan
dan jasa, pelayanan pendidikan dan kesehatan, pusat keagamaan;
d. Dukungan nilai historis yang terdapat di Kota Banda Aceh untuk pengembangan
kegiatan pariwisata.
Sebagai Ibukota Provinsi Aceh, diharapkan Kota Banda Aceh akan menjadi kota yang bisa menjadi kota yang berkualitas, memiliki sumber daya manusia yang berilmu, beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bia menjadi kota yang melayani jasa terhadap masyarakat. bisa menjadi kota wisata yang tertata dan madani sesuai dengan visinya, dan terwujudnya pemerinah yang baik dan bersih dengan kesiplinan tinggi.
FUNGSI UTAMA DAN PENDUKUNG YANG DIARAHKAN
Fungsi Kota Banda Aceh sebagai pusat pemerintahan provinsi, pusat
perdagangan dan jasa, pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan, pusat
keagamaan. Dalam pengembangan ke depannya, Kota Banda Aceh direncanakan
dikembangkan dalam 4 Wilayah Pengembangan (WP), yaitu :
1. WP Pusat Kota Lama
WP ini terdiri dari wilayah Kecamatan Baiturrahman, Kuta Alam dan Kuta
Raja, berfungsi sebagai pusat kegiatan perdagangan regional dan
pemerintahan. Fungsi ini didukung oleh kegiatan jasa komersial,
perbankan, perkantoran, pelayanan umum dan sosial, kawasan
permukiman perkotaan, industri kecil/kerajinan, pusat kebudayaan dan
Islamic Center. WP ini juga berfungsi sebagai pusat pelayanan tujuan
wisata budaya dan agama bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota
Banda Aceh. Pusat WP ditetapkan di Kawasan Pasar Aceh dan
Peunayong.
2. WP Pusat Kota Baru
WP ini terdiri dari wilayah Kecamatan Banda Raya dan Lueng Bata,
merupakan pengembangan wilayah kota ke arah bagian Selatan, yang
berfungsi sebagai pusat kegiatan olah raga (sport centre), terminal AKAP
dan AKDP, perdagangan dan jasa serta pergudangan. Pusat WP
ditetapkan di Batoh dan Lamdom.
3. WP Keutapang
WP ini terdiri dari wilayah Kecamatan Meuraxa dan Jaya Baru, merupakan
pengembangan wilayah kota ke arah bagian Barat. WP ini difungsikan
sebagai pusat kegiatan pelabuhan dan wisata, yang didukung kegiatan
perdagangan dan jasa, kawasan permukiman, dan sebagainya. Pusat WP
ditetapkan di Keutapang.
4. WP Ulee Kareng
WP ini terdiri dari wilayah Kecamatan Syiah Kuala dan Ulee Kareng,
merupakan pengembangan wilayah kota ke bagian Timur, yang berfungsi
sebagai pusat pelayanan sosial kota seperti halnya pendidikan, kesehatan
dan kegiatan lain yang komplementer dengan kedua kegiatan tersebut.
Pusat WP ditetapkan di Ulee Kareng.
GAMBARAN UMUM WILAYAH
Letak
geografis Kota Banda Aceh antara 05016’15” – 05036’16” LU dan 95016’15” –
95022’35” BT. Tinggi rata-rata 0,80 meter di atas permukaan laut, dengan luas
wilayah 61,36 km2. Batas-batas wilayah
Kota Banda Aceh adalah sebagai berikut:
Sebelah
Utara : Selat Malaka
Sebelah
Selatan : Kecamatan Darul Imarah
Besar
Sebelah
Barat : Kecamatan Peukan Bada,
Kabupaten Aceh Besar
Sebelah
Timur : Kecamatan Barona Jaya
Kabupaten Aceh Besar
Luas dan Persentase
Wilayah Kecamatan di Banda Aceh
No
|
Kecamatan
|
Luas
(Km2)
|
Persentase
(%)
|
1
|
Meuraxa
|
7,258
|
11,83
|
2
|
Baiturrahman
|
4,539
|
7,40
|
3
|
Kuta
Alam
|
10,047
|
16,37
|
4
|
Syiah
Kuala
|
14,244
|
23,21
|
5
|
Ulee
Kareng
|
6,150
|
10,02
|
6
|
Banda Raya
|
4,789
|
7,80
|
7
|
Kuta Raja
|
5,211
|
8,49
|
8
|
Lueng Bata
|
5,341
|
8,70
|
9
|
Jaya Baru
|
3,780
|
6,16
|
Jumlah
|
61,359
|
100,00
|
|
Sumber : Banda Aceh
Dalam Angka, 2009
Adapun wilayah administrasi Kota
Banda Aceh meliputi 9 kecamatan, 70 desa dan 20 kelurahan dengan pembagian tiap
kecamatan seperti pada gambar berikut ini.
Sumber
: BRR Tata Ruang, Lingkungan, Pemantauan, dan Evaluasi Manfaat. 2006
KONDISI FISIK DASAR
Topografi
Kota Banda Aceh secara geologi merupakan dataran banjir Krueng Aceh dan 70% wilayahnya berada pada ketinggian kurang dari 10 meter dari permukaan laut. Ke arah hulu (wilayah Kabupaten Aceh Besar) dataran ini menyempit dan bergelombang dengan ketinggian hingga 50 m di atas muka laut. Dataran ini diapit oleh perbukitan terjal di sebelah Barat dan Timur dengan ketinggian lebih dari 50 m, sehingga mirip kerucut dengan mulut menghadap ke laut.
Secara umum geomorfologi wilayah Kota Banda Aceh terletak di atas formasi batuan vulkanis tertier (sekitar Gunung Seulawah dan Pulau Breueh), formasi batuan sedimen, formasi endapan batu (disepanjang Kr. Aceh), formasi batuan kapur (dibagian timur), formasi batuan vulkanis tua terlipat (dibagian selatan), formasi batuan sedimen terlipat dan formasi batuan dalam.
Geomorfologi daerah pesisir Kota Banda Aceh secara garis besar dibagi menjadi:
1. Dataran terdapat di pesisir pantai utara dari Kecamatan Kuta Alam hingga sebagian Kecamatan Kuta Raja
2. Pesisir pantai wilayah barat di sebagian Kecamatan Meuraxa Sedangkan daerah yang termasuk pedataran sampai dengan elevasi ketinggian 0 hingga lebih dari 10 m, kemiringan lereng 0 – 2 % terletak antara muara-muara sungai dan perbukitan.
Daerah pedataran di pesisir Kota Banda Aceh secara umum terbentuk dari endapan sistem marin yang merupakan satuan unit yang berasal dari bahan endapan (aluvial) marin yang terdiri dari pasir, lumpur dan krikil. Kelompok ini dijumpai di dataran pantai yang memanjang sejajar dengan garis pantai dan berupa jalur-jalur beting pasir resen dan subresen. Beting pasir resen berada paling dekat dengan laut dan selalu mendapat tambahan baru yang berupa endapan pasir, sedangkan beting pasir subresen dibentuk oleh bahan-bahan yang berupa endapan pasir tua, endapan sungai, dan bahan-bahan aluvial/koluvial dari daerah sekitarnya.
Hidrologi
Ada delapan sungai yang melalui Kota Banda Aceh yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air (Catchment Area) dan sumber air baku, kegiatan perikanan, dan sebagainya. Wilayah Kota Banda Aceh memiliki air tanah yang bersifat asin, payau dan tawar. Daerah dengan air tanah asin terdapat pada bagian utara dan timur kota sampai ke tengah kota. Air payau berada di bagian tengah kota membujur dari timur ke barat. Sedangkan wilayah yang memiliki air tanah tawar berada di bagian selatan kota membentang dari kecamatan Baiturrahman sampai kecamatan Meuraxa.
Klimatologi
Banda Aceh memiliki suhu udara rata-rata bulanan berkisar antara 25,5 derajat hingga 27,5 derajat C dengan tekanan (minibar) 1008-1012. Sedangkan untuk suhu terendah dan tertinggi bervariasi antara 18,0 derajat C hingga 20,0 derajat C dan antara 33,0 derajat C hingga 37 derajat C, Curah hujan kota Banda Aceh yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Blang Bintang menunjukkan bahwa curah hujan yang terjadi selama tahun 1986 sampai dengan 1998 berkisar antara 1.039 mm sampai dengan 1.907 mm dengan curah hujan tahunan rata-rata 1.592 mm. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret, Oktober dan Nopember, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Januari, Februari dan Agustus. Jumlah hari hujan tertinggi terjadi pada bulan agustus yaitu 20-21 hari dan terendah pada bulan februari dan maret dengan jumlah hari hujan hanya 2 – 7 hari. Kelembaban udara di Kota Banda Aceh sangat bervariasi tergantung pada keadaan iklim pada umumnya. Kelembaban udara dari data tahun 1998 berkisar antara 75% - 87%. Kelembaban udara tertinggi terjadi pada bulan Desember dan terendah pada bulan juni. Kecepatan angin bertiup antara 2 – 28 knots.
Sumber : URRP Banda Aceh City, JICA Study Team
KEPENDUDUKAN
Jumlah penduduk kota Banda Aceh sebelum terjadinya bencana
Tsunami adalah sekitar 230.828 jiwa, dengan mayoritas penduduk beragama dan
berbudaya Islam. Sebagai Ibukota Provinsi NAD sekaligus merupakan pusat
pemerintahan dan kegiatan ekonomi, Kota Banda Aceh memiliki kepadatan penduduk
tertinggi diantara kabupaten/kota lainnya.
TAHUN 2001-2003
Sumber : Banda Aceh dalam Angka Tahun 2001-2003
Pasca terjadinya Tsunami, jumlah penduduk kota Banda Aceh
berkurang dengan pesat sekitar 27%. Menurut sensus yang dilakukan oleh
pemerintah kota jumlah penduduk Banda Aceh sebelum Tsunami adalah sebesar
263.668 jiwa dan tereduksi menjadi 192.194 jiwa, dengan jumlah kehilangan
(meninggal dunia atau hilang) sebanyak 71.475 jiwa dan jumlah penduduk yang
kehilangan tempat tinggal sebanyak 65.500 jiwa.
JUMLAH PENDUDUK PASCA TSUNAMI DI KOTA BANDA ACEH
Sumber : Pemerintah
Kota Banda Aceh, 12 April 2005
JUMLAH PENDUDUK KOTA BANDA ACEH TAHUN 2005-2007 (PASCA TSUNAMI NAD & NIAS DESEMBER 2004)
Sumber : RTRW Kota Banda Aceh
2006-2026
JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN KOTA BANCA ACEH TAHUN 2008
Sumber : RTRW Kota Banda Aceh 2006-2026
PROYEKSI PENDUDUK KOTA BANDA ACEH HINGGA TAHUN 2026
Sumber : Hasil Perhitungan
berdasarkan skenario 2 JICA
Dari hasil proyeksi yang dilakukan, jumlah penduduk di Kota
Banda Aceh hingga tahun 2026 diperkirakan mencapai jumlah 346 ribu jiwa lebih.
Jumlah ini tentunya telah mempertimbangkan faktor pertumbuhan alamiah, migrasi,
dan perkembangan sosialekonomi masyarakat. Proyeksi jumlah penduduk ini
tentunya diperlukan untuk mengalokasikan sistem aktivitas penduduk dan sarana
serta prasarana pendukungnya.
EKONOMI
Di bawah ini akan diuraikan kegiatan-kegiatan ekonomi yang dominan di Kota Banda Aceh.
Perdagangan
Sebagai wilayah perkotaan peranan kegiatan perdagangan di Kota Banda Aceh sangat dominan. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa peranan sektor perdagangan, hotel, dan restoran memberikan kontribusi 32,29% dari PDRB pada tahun 2004 (ADHB). Adapun pertumbuhan sektor ini dari tahun 2000 s/d 2004 sebesar 2,36% rata-rata per tahun
(ADHK). Sebagian besar dari kegiatan ini lebih banyak didominasi sub-sektor perdagangan, sedangkan sub-sektor hotel dan restoran hanya memberi kontribusi sekitar 2%.
Perkembangan perijinan perusahaan perdagangan di kota Banda Aceh cukup besar yaitu sebanyak 494 perusahaan pada tahun 2000 dan tahun 2002, sedangkan pada tahun 2003 dan tahun 2004 sedikit menurun yaitu sebanyak 463 perijinan baru yang diterbitkan. Skala kegiatan perusahaan yang mendapatkan ijin perdagangan, sebagian besar merupakan perusahaan kecil dan menengah. Penerbitan ijin perdagangan perusahaan perdagangan besar terjadi pada tahun 2003 sebanyak 56 perusahaan dan pada tahun 2004 sebanyak 58 perusahaan, sedangkan pada tahun 2000 dan 2002 tidak ada perusahaan besar yang mendapatkan ijin perdagangan.
Penerbitan ijin perusahaan perdagangan skala menengah pada tahun 2002 sebanyak 61 perusahaan, tahun 2003 dan tahun 2004 masing-masing 76 perusahaaan. Adapun penerbitan ijin bagi perusahaan perdagangan kecil pada tahun 2000 dan 2002 masing-masing sebanyak 433 perusahaan dan pada tahun 2003 dan 2004 sebanyak masing-masing 329 perusahaan.
Perindustrian
Peranan sektor industri pengolahan di Kota Banda Aceh belum begitu dominan yaitu 4,02% (Rp 73.895,13 juta) dari PDRB pada tahun 2004 (ADHB). Adapun pertumbuhan sektor ini dari tahun 2000 s/d 2004 sebesar 2,95% rata-rata per tahun (ADHK).
Gambaran industri kecil di kota Banda Aceh akan diambil dari jumlah, nilai investasi, jumlah tenaga kerja dan nilai produksinya. Jumlah industri kecil di kota Banda Aceh pada tahun 2000 ada 1340 unit usaha dan pada tahun 2004 jumlahnya bertambah menjadi 1479 unit usaha.
Nilai investasi industri kecil pada tahun 2000 sebesar Rp 14.248.420.000 dan pada tahun 20004 nilai investasinya sebesar Rp 19.281.671.000, dengan rata-rata proporsi terbesar pada jenis usaha Kertas, Barang dari Kertas, Percetakan dan Penerbitan yaitu sebesar 29,10 %.
Penyerapan tenaga kerja pada subsektor industri kecil dari tahun 2000 – 2004 mengalami peningkatan. Pada tahun 2000 jumlah tenaga kerja sebesar 5.327 orang dan pada tahun 2004 mencapai 6.155 orang. Walaupun jumlah unit usaha tingkat perkembangannya hanya 3,2 % tetapi nilai produksi dari tahun 2000 – 2004 meningkat. Pada tahun 2000 nilai produksi sebesar Rp 72.808.200,00 dan pada tahun 2004 sebesar Rp 86.188.088,00.
Pertanian
Peranan sektor pertanian di Kota Banda Aceh yaitu sebesar 9,60% (Rp 176.394,81 juta) dari PDRB pada tahun 2004 (ADHB). Adapun pertumbuhan sektor ini dari tahun 2000 s/d 2004 sebesar 2,71% rata-rata per tahun (ADHK). Sektor pertanian yang akan diuraikan di bawah ini yaitu subsektor perikanan, karena subsektor ini memegang peranan penting dalam perekonomian Kota Banda Aceh.
Luas usaha perikanan berupa tambak ikan/udang di Kota Banda Aceh menunjukan pertumbuhan yang positif yaitu 2,33% rata-rata per tahun. Luas usaha perikanan pada tahun 2000 yaitu seluas 667,0 Ha, pada tahun 2002 mengalami peningkatan yaitu seluas 749,5 Ha, pada tahun 2003 mengalami penurunan yaitu seluas 683,1 Ha dan pada tahun 2004 meningkat menjadi seluas 724,3 Ha. Dengan peningkatan luas usaha yang positif tersebut mendorong laju pertumbuhan produksi perikanan tambak. Pada tahun 2000 jumlah produksinya sebesar 672,6 ton, tahun 2002 menurun menjadi 564,2 ton, tahun 2003 meningkat menjadi 661,0 ton, dan pada tahun 2004 jumlah produksi menjadi 1.776,2 ton. Dengan demikian rata-rata pertumbuhan produksi perikanan tambak yaitu sebesar 19,41% rata-rata per tahun.
Adapun produksi perikanan laut dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2004 mengalami penurunan 11,76% rata-rata per tahun . Pada tahun 2000 jumlah produksi sebesar 8.446,0 ton, tahun 2002 sebesar 11.590,6 ton, tahun 2003 sebesar 7.036,3 ton, dan pada tahun 2004 yaitu sebesar 7.203,2 ton.
Demikian pula halnya dengan tenaga kerja pada subsektor perikanan, umumnya mengalami penurunan. Jumlah petani ikan pada tahun 2000 yaitu sebanyak 407 orang, tahun 2002 sebanyak 412 orang, tahun 2003 sebanyak 396 orang dan pada tahun 2004 sebanyak 370 orang. Demikian pula halnya dengan jumlah nelayan, pada tahun 2000 yaitu sebanyak 1.993 orang, tahun 2002 sebanyak 1.774 orang, tahun 2003 sebanyak 1.535 orang dan pada tahun 2004 sebanyak 1.642 orang.
Ketenagakerjaan
Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah maka para pencari kerja di Kota Banda Aceh juga bertambah pula, tahun 2000 saja para pencari kerja berjumlah 18.180, tahun 2002 mengalami peningkatan sebesar 22.315, tahun 2003 dan 2004 menurun sebesar 17.170. Sedang jumlah penduduk yang sudah tertampung didunia kerja juga menunjukkan peningkatan yang positif. Tahun 2000 yang sudah bekerja 1.005, tahun 2002 meningkat menjadi 1.041, tahun 2003-2004 meningkat pula mencapai 4.213.
SOSIAL BUDAYA
Letak Banda Aceh di Provinsi Aceh menjadikan Kota Banda Aceh menjadi simbol serambi mekah, disebabkan ada beberapa bangunan-bangunan yang berciri khas islami, contohnya Masjid Raya Baiturrahman dan Masjid Indrapuri.
Banda Aceh sebagai pusat pengembangan di Provinsi Aceh telah didatangi oleh berbagai macam suku khususnya suku yang ada di Aceh, seperti suku aneuk jamee, suku kluet, suku alas, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan Kota Banda Aceh di huni oleh berbagai suku.
PARIWISATA
Kota Banda Aceh memiliki banyak tempat yang bernilai budaya, baik wisata sejarah maupun wisata alam. Berikut adalah daftar tempat pariwisata di Kota Banda Aceh.
Sumber : wikipedia.com
Objek Wisata Alam :
Pantai Syiah Kuala di Gampong Deah Raya
Pantai Gampong Jawa di Gampong Jawa
Pantai Alue Naga di Alue Naga
Pantai Ulee Lheue di Gampong Ulee Lheue
Objek Wisata Tsunami :
PLTD Apung di Gampong Punge Blang Cut
Kapal di Atas Rumah di Gampong Lampulo
Taman Thanks To The World di Kp. Baru
Kuburan Massal di Gampong Ulee Lheue
Museum Tsunami Aceh di Gampong Sukaramai
Objek Wisata Spritual :
Masjid Raya Baiturrahman di Gampong Kp. Baru
Masjid Baiturrahim di Gampong Ulee Lheue
Masjid Tgk. Dianjong di Gampong Peulanggahan
Masjid Tgk. Bitai di Gampong Bitai
Masjid Omman di Gampong Lampriet
Masjid Lueng Bata di Gampong Lueng Bata
Objek Wisata Sejarah dan Purbakala :
Makam Sultan Iskandar Muda di Gampong Peuniti
Makam Kandang XII di Gampong Kp. Baru
Komp Makam Raja Dinasti Bugis di Gampong Peuniti
Makam Kandang Meuh di Gampong Peuniti
Komp. Makam Sultan Ibrahim Mansyur Syah di Gampong Peuniti
Makam Tgk. Syiah Kuala di Gampong Deah Raya
Komp. Makam Putro Ijo di Gampong Pande
Makam Tuan Dikandang di Gampong Pande
Komp Makam Raja Dinasti Bugis di Gampong Peuniti
Makam Kandang Meuh di Gampong Peuniti
Komp. Makam Sultan Ibrahim Mansyur Syah di Gampong Peuniti
Makam Tgk. Syiah Kuala di Gampong Deah Raya
Komp. Makam Putro Ijo di Gampong Pande
Makam Tuan Dikandang di Gampong Pande
Pintu Khop di Gampong Sukaramai
Kher Khoff di Gampong Sukaramai
Gunongan di Gampong Sukaramai
Komp. Makam Raja-Raja Gp. Pande di Gampong Pande
Komp. Makam Raja Reubah di Gampong Lamlagang
Komp. Makam Raja Djalil di Gampong Lamlagang
Komp. Makam Sultan Jamalul Alam di Gampong Kp. Baru
Taman Putro Phang di Gampong Neusu
Komp. Makam Kandang Blang di Gampong Merduati
Komp. Makam Tuan Dipakeh di Gampong Punge Blang Cut
Komp. Makam Tgk. Dibitai di Gampong Bitai
Komp. Makam Poteu Meureuhom di Gampong Pango
Makam Tgl. Chik Panteriek di Gampong Pante Riek
Makam Tgk. Dianjong di Gampong Peulanggahan
Pendopo Gubernur di Gampong Peuniti
Taman Sari di Gampong Baru
Cakradonya di Gampong Peuniti
Monumen Pesawat RI 001 di Gampong Sukaramai
Museum Negeri Aceh di Gampong Peuniti
Bank Indonesia di Gampong Keudah
Gedung BAPPERIS di Gampong Peuniti.
INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG
Sumber : RTRW Kota Banda Aceh Tahun 2006-2026
Untuk lahan-lahan di pusat kota, umumnya intensitas pemanfaatan ruangnya, yang meliputi nilai Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan ketinggian bangunan, relatif tinggi seperti untuk perkantoran, perdagangan dan jasa, dan lainnya. Sedangkan untuk kawasan-kawasan di pinggiran pusat kota yang umumnya merupakan lahan pertanian dan perkampungan menjadikan intensitas pemanfaatan ruangnya rendah.
Selain itu, yang juga perlu diperhatikan adalah pengaturan Garis Sempadan Bangunan (GSB) yang dimaksudkan untuk memperoleh keteraturan tata letak bangunan terhadap jalan maupun bangunan lain di sekitarnya. Selain itu juga untuk pengaturan penggunaan ruang jalan bagi pemakai maupun penghuni rumah ataupun kemungkinan terhadap pelebaran jalan. Hal ini ditentukan berdasarkan fungsi jaringan jalan yang bersangkutan dan penggunaan lahan disekitarnya.
RENCANA INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG DI KOTA BANDA ACEH TAHUN 2010
(VERSI KAJIAN DEPARTEMEN PU TAHUN 2006)
Sumber : Revisi RTRW Kota Banda Aceh Tahun 2010 (Versi PU), Tahun 2006
SARANA
Fasilitas Pendidikan
Fasilitas pendidikan di Kota Banda Aceh telah memadai, diantaranya telah tersedia
dengan lengkap jenis fasilitas pendidikan, mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan
tinggi. Berikut data jumlah Fasilitas Pendidikan di Kota Banda Aceh pada Tahun 2004-
2005 dirinci berdasarkan kecamatan.
JUMLAH TK, SD, SLTP, SLTA, DAN KEJURUAN
DI KOTA BANDA ACEH TAHUN 2004-2005
Sumber : BPS Kota Banda Aceh Tahun 2004-2005
Sumber : Kopertis Wilayah 1
Fasilitas Kesehatan
Fasilitas kesehatan yang tersedia di Kota Banda Aceh diketegorikan dalam 9
bentuk yaitu berupa rumah sakit, rumah bersalin, puskesmas, puskesmas pembantu, polindes, posyandu, klinik, dan puskesmas keliling.
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh
Fasilitas Peribadatan
Di daerah Kota Banda Aceh, hampir merata desa memiliki Masjid dan Musholla,
karena mayoritas penduduk di Kota Banda Aceh adalah beragama Islam. Hanya di
Kecamatan Kuta Alam dan Kuta Raja terdapat tempat ibadah umat Kristen, Hindu dan
Budha.
JUMLAH FASILITAS PERIBADATAN
DI KOTA BANDA ACEH TAHUN 2003
Sumber : Podes Kota Banda Aceh,Tahun 2003
Untuk kebutuhan sarana perkantoran dan Pelayanan Umum berdasarkan wilayah yang terkena dampak maka Kantor Kecamatan diperlukan di 6 kecamatan yang terkena dampak kecuali Kecamatan Baiturrahman, Lueng Bata dan Ulee Kareng. Sedangkan Kantor Desa/Kelurahan diperlukan antara lain di daerah berikut:
Kecamatan Meuraxa, meliputi: Kel. Ulee Lheue, Kel. Deah Glumpang, Kel. Deah Teungoh, Kel. Deah Baro, Kel. Lambung, Kel. Gampong Pie, Kel. Gampong Blang, Kel. Lamjabat, Kel. Asoenanggro, Kel. Surien, Kel. Gampong Baro, Kel. Pungee Ujong, Kel. Pungee Jurong, Kel. Lampaseh Kota, Kel. Lampaseh Aceh.
Kecamatan Kuta Raja, meliputi: Kel. Gampong pande, Kel. Gampong Jawa, Kel. Merduati, Kel. Keudah, Kel. Lampaseh Kota, Kel. Kampung Baru.
Kecamatan Jaya Baru, meliputi: Kel. Ulee Pata, Kel. Lampoh Daya, Kel. Bitai, Kel.
Lam jamee, Kel. Emperom.
Kecamatan Kuta Alam, meliputi: Kel. Lampulo, Kel. Lamdingin, Kel. Bandar Baru.
Kecamatan Syiah Kuala, meliputi: Kel. Dayah Raya, Kel. Alue, Naga, Kel. Tibang, dan Kel. Jeulingke.
Kecamatan Baiturrahman, meliputi: Kel. Sukaramai
Untuk kantor Pos Hansip di 6 kecamatan tidak diperlukan, hanya diperlukan pos pengamanan untuk para pengungsi 1 unit di masing-masing kecamatan. Sedangkan untuk Kantor Pos Pembantu diperlukan di pusat Kota Banda Aceh di perlukan di Kecamatan Kuta Alam 1 unit, Baiturrahman 1 unit, Jaya Baru 1 unit dan Syiah Kuala 1 unit. Serta sarana PLN, PDAM, Telkom, dan Polsek diperlukan 1 unit di masing-masing wilayah yang terkena dampak untuk melayani masyarakat yang sedang membangun kembali wilayahnya yang terkena tsunami.
PRASARANA
Air Bersih
Penyediaan air bersih penduduk Kota Banda Aceh sebelum terjadinya tsunami, dilayani oleh pelayanan dari PDAM Tirta Daroy Banda Aceh, dan pemanfaatan sumur air
tanah dangkal yang ada di rumah penduduk. Tingkat pelayanan PDAM Tirta Daroy Banda
Aceh, adalah 47% dari penduduk, dengan sumber air yang berlokasi di Lambaro dan
Siron, dengan memanfaatkan air Sungai Krueng Aceh yang mempunyai debit minimal
10.38m3/dt pada musim kemarau panjang.
KONDISI PDAM TIRTA DAROY
Sumber : Data PDAM, Juni 2005
Sedangkan untuk sistem perpipaan penyediaan air bersih di Kota Banda Aceh dibagi menjadi 4 jaringan yaitu: jaringan Wilayah Meuraxa, jaringan Wilayah Syiah Kuala, jaringan Wilayah Baiturrahman dan jaringan Wilayah Kuta Alam. Jaringan perpipaan yang digunakan di Kota Banda Aceh terdiri dari berbagai jenis material pipa yaitu baja, DCIP, PVC, GIP dengan diameter 25 - 600 mm. Jaringan pipa distribusi di daerah Darussalam dan Unsyiah terpisah sama sekali dari jaringan yang ada di Kota Banda Aceh lainnya khususnya di Darussalam, Unsyiah kira-kira memiliki sekitar 900 sambungan rumah dan dilengkapi dengan elevated reservoir dari beton kapasitas sekitar 500 m3, mendapat suplai air dari IPA Siron melalui pipa transmisi primer diameter 200 dan 150 mm.
Air Limbah
Pengelolaan air limbah rumah tangga yang berasal dari kakus (black water) penduduk Kota Banda Aceh sebelum maupun sesudah tsunami sebagian besar adalah dengan menggunakan pengolahan setempat (on site), yaitu berupa tangki septic dan sistem peresapan di halaman rumahnya. Sedangkan untuk air limbah yang berasal dari mandi, cuci dan dapur (grey water), umumnya dibuang langsung ke saluran drainase yang ada di depan rumah. Namun sebagian masyarakat juga masih melakukan pembuangan air limbah langsung ke badan air seperti sungai dan pantai, terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar kawasan tersebut. Volume air limbah grey water dari suatu daerah biasanya sekitar 80% dari volume air bersih yang digunakan dan volume air limbah black water adalah sebesar 20% dari volume air bersih yang digunakan, serta besarnya volume endapan lumpur tinja yang dihasil untuk tiap orang perhari adalah sebesar 50 mili liter, maka berdasarkan proyeksi kebutuhan air bersih untuk Kota Banda Aceh besarnya perkiraan volume air limbah dan volume lumpur tinja yang dihasilkan di Kota Banda Aceh pada tahun 2026 dapat dilihat pada tabel berikut ini.
PROYEKSI VOLUME AIR LIMBAH KOTA BANDA ACEH
TAHUN 2006 SAMPAI DENGAN 2026
Sumber : Hasil Analisis
Persampahan
Pada saat sebelum terjadinya tsunami, timbunan sampah Kota Banda Aceh adalah sekitar sebesar 600 m3 perhari, dengan tingkat pelayanan 65%. Dengan sistem pewadahan di rumah, pengumpulan menuju container sebanyak 53 unit yang tersebar di seluruh kota dan pembuangan akhir dengan sistem open dumping di Gampong Jawa. Armada truk sampah yang dimiliki adalah 29 unit yang beroperasi setiap hari, mengangkut sampah dari tempat pembuangan sementara berupa container ke tempat pembuangan akhir (TPA) Gampong Jawa.
IPLT DI GAMPONG JAWA YANG DIREHABILITASI PADA DESEMBER 2005
Sumber : Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Banda Aceh
RUTE OPERASIONAL TRUK ANGKUTAN SAMPAH DAN LOKASI KONTAINER DKP
KOTA BANDA ACEH
Sumber : Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Banda Aceh
Drainase
Sistem drainase perkotaan Kota Banda Aceh di bawah kendali Dinas Prasarana Jalan dan Sumber Daya Air (PJSDA). Luas area sistem drainase meliputi 35 km2 dan dibagi dalam 8 zona. Adapun kedelapan zona tersebut adalah:
1. Zona I Kec. Jaya Baru
2. Zona II Kec. Kuta Raja Kec. Meuraxa
3. Zona III Kec. Kuta Alam
4. Zona IV Kec. Baiturrahman
5. Zona V Kec. Kuta Alam, Kec. Syiah Kuala
6. Zona VI Kec. Lheung Bata
7. Zona VII Kec. Ulee Kareng
8. Zona VIII Darussalam
Telekomunikasi
Sarana telekomunikasi yang berupa telepon, telegram, faximile, dan berbagai produk telekomunikasi lainnya seperti GSM, CDMA operator Satelindo, Telkomsel, telah merambah seluruh kecamatan di Kota Banda Aceh. Berdasarkan data dari BPS tahun 2015, dapat diketahui banyaknya fasilitas telepon yang diklasifikasikan dalam kategori fasilitas untuk perumahan, bisnis, sosial, telepon umum, wartel, dan warnet.
Sumber : Banda Aceh Dalam Angka 2015
PERMASALAHAN
POTENSI YANG DAPAT DIKEMBANGKAN
SUMBER
RPIJM Kota Banda Aceh 2010-2014
RTRW Kota Banda Aceh 2009 - 2029
Revisi RTRW Kota Banda Aceh 2006 - 2026
Banda Aceh Dalam Angka 2015
wikipedia.com





















0 comments:
Post a Comment